TOLERANSI DALAM ISLAM SEBAGAI FONDASI KERUKUNAN DI LINGKUNGAN KAMPUS UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

oleh -6 Dilihat
oleh
banner 468x60

Lpk | Surabaya – Agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Perbedaan tersebut perlu disikapi dengan sikap saling menghormati agar tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan harmonis. Dalam Islam, toleransi merupakan sikap menghargai perbedaan tanpa harus menghilangkan keyakinan yang dianut. Artikel ini bertujuan menjelaskan pentingnya toleransi dalam Islam sebagai dasar untuk membangun kerukunan antarumat beragama di lingkungan kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama, suku, bahasa, dan budaya. Keberagaman tersebut juga dapat ditemukan di lingkungan perguruan tinggi, tempat mahasiswa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Kondisi ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar menghargai perbedaan dan membangun hubungan sosial yang baik.

banner 336x280

Dalam kehidupan kampus, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga perlu mengembangkan sikap, moral, dan tanggung jawab sosial. Salah satu sikap penting yang harus dimiliki adalah toleransi. Tanpa toleransi, perbedaan dapat menimbulkan kesalahpahaman, prasangka, bahkan konflik antarmahasiswa.

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang lain. Ajaran tersebut menunjukkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau mendiskriminasi seseorang. Oleh karena itu, nilai-nilai toleransi dalam Islam penting diterapkan dalam kehidupan mahasiswa, termasuk di lingkungan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Pengertian Toleransi dalam Islam Toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di antara individu atau kelompok. Dalam konteks agama, toleransi berarti menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya tanpa paksaan, penghinaan, atau perlakuan diskriminatif.

Dalam Islam, prinsip menghargai perbedaan dapat dipahami melalui Surah Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Pesan ini menunjukkan bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu disikapi secara bijaksana.

Selain itu, Surah Al-Kafirun ayat 6 menyatakan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Ayat ini menegaskan adanya perbedaan keyakinan yang perlu dihormati. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan seluruh ajaran agama, melainkan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain tanpa meninggalkan keyakinan masing-masing.

Dengan demikian, toleransi dalam Islam dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, berlaku adil, menjaga ucapan, dan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain.

Penerapan Toleransi dalam Kehidupan Mahasiswa UWKS Toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, tetapi perlu diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Pertama, mahasiswa perlu menghormati teman yang sedang menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Bentuk penghormatan tersebut dapat dilakukan dengan tidak mengganggu kegiatan ibadah dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Sebagai mahasiswa UWKS, penerapan toleransi dapat dimulai dari kegiatan sehari-hari, seperti mengerjakan tugas kelompok, berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi mahasiswa, dan berpartisipasi dalam kegiatan kampus. Misalnya, ketika mengerjakan tugas kelompok, mahasiswa sebaiknya memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan pendapat tanpa membedakan agama atau latar belakangnya. Jika terjadi perbedaan pandangan, penyelesaiannya perlu dilakukan melalui diskusi yang sopan dan mengutamakan tujuan bersama, bukan dengan merendahkan pendapat orang lain.

Toleransi juga dapat diterapkan dengan menghormati teman yang sedang menjalankan ibadah, memahami kebutuhan teman ketika menjalankan kegiatan keagamaan, serta tidak menjadikan agama sebagai bahan ejekan atau alasan untuk mengucilkan seseorang.

Dalam komunikasi sehari-hari maupun di grup WhatsApp kelas, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang sopan dan menghindari penyebaran candaan, komentar, atau informasi yang dapat menyinggung kelompok agama tertentu. Sikap tersebut penting karena hubungan antarmahasiswa tidak hanya berlangsung secara langsung, tetapi juga melalui media digital.

Dari sudut pandang mahasiswa UWKS, toleransi bukan sekadar memahami teori yang dipelajari dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam, melainkan menerapkannya dalam perilaku nyata. Mahasiswa dapat menunjukkan toleransi melalui kesediaan membantu teman yang mengalami kesulitan, bekerja sama dalam kegiatan sosial, dan tetap menjaga hubungan baik meskipun memiliki perbedaan keyakinan. Dengan demikian, perbedaan tidak menjadi penghalang untuk belajar dan berkembang bersama (Rico, Observasi 2026).

Pertama, mahasiswa perlu menjaga komunikasi. Perbedaan pendapat sebaiknya dibicarakan dengan bahasa yang sopan dan tidak merendahkan keyakinan orang lain.

Mahasiswa juga harus berhati-hati ketika menyampaikan lelucon, komentar, atau unggahan di media sosial agar tidak menyinggung kelompok agama tertentu.(Mutia, Observasi 2026) Kedua, toleransi dapat diterapkan melalui kerja sama dalam kegiatan akademik dan sosial. Misalnya, mahasiswa dari latar belakang agama yang berbeda dapat bekerja sama dalam tugas kelompok, kegiatan kemanusiaan, Lingkungan kampus merupakan tempat mahasiswa belajar, berdiskusi, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan sosial.

Mahasiswa dapat memiliki perbedaan agama, kebiasaan, pandangan, dan cara berkomunikasi.

Apabila perbedaan tersebut disikapi dengan baik, kehidupan kampus akan menjadi lebih terbuka dan harmonis. Toleransi penting karena dapat mencegah munculnya diskriminasi dan konflik yang disebabkan oleh prasangka terhadap kelompok tertentu. Mahasiswa yang memiliki sikap toleran akan lebih mampu menerima pendapat orang lain, menyelesaikan perbedaan melalui diskusi, serta bekerja sama tanpa menjadikan agama sebagai alasan untuk menjauhi seseorang. Sebaliknya, sikap intoleran dapat menghambat kerja sama dan membuat mahasiswa merasa tidak dihargai. Oleh sebab itu, seluruh warga kampus perlu berperan dalam membangun lingkungan pendidikan yang menghormati martabat setiap individu.

Menjaga kebersihan kampus, dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian dan tanggung jawab sosial dapat dilakukan bersama tanpa harus menyamakan keyakinan.(Novi, Observasi 2026) Ketiga, mahasiswa perlu menolak tindakan diskriminasi dan perundungan yang didasarkan pada agama. Apabila menemukan perilaku tersebut, mahasiswa dapat menyampaikan keberatan dengan cara yang aman dan melaporkannya kepada pihak kampus melalui saluran yang sesuai. (farel, Observasi 2026).

Peran Mahasiswa dalam Membangun Kerukunan Mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan karena mereka merupakan bagian dari generasi muda yang akan berkontribusi bagi masyarakat. Upaya membangun kerukunan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menghargai pendapat, tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu yang mempertentangkan kelompok agama. Selain itu, mahasiswa dapat membangun pertemanan yang terbuka, mengutamakan dialog ketika terjadi perbedaan, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Sikap tersebut sejalan dengan nilai akhlak dalam Islam, seperti kejujuran, keadilan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Di lingkungan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, nilai toleransi dapat menjadi bagian dari budaya akademik yang mengutamakan rasa saling menghargai. Penerapannya membutuhkan keterlibatan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga kampus. Dengan kerja sama tersebut, kampus diharapkan menjadi tempat belajar yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan, tetapi jugamembentuk karakter dan tanggung jawab sosial. (Novi,Observasi 2026).

Toleransi dalam Islam merupakan salah satu nilai penting untuk membangun kerukunan di tengah keberagaman. Ajaran Islam mendorong umatnya untuk menghormati perbedaan, berlaku adil, dan berbuat baik kepada sesama. Dalam kehidupan kampus, nilai tersebut dapat diterapkan dengan menghormati ibadah orang lain, menjaga komunikasi, bekerja sama dalam kegiatan akademik dan sosial, serta menolak diskriminasi berdasarkan agama.

Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kampus yang damai melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Toleransi bukan berarti menghilangkan perbedaan keyakinan, melainkan membangun hubungan yang baik meskipun terdapat perbedaan. Dengan demikian, toleransi dapat menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan kampus yang harmonis, adil, dan saling menghormati.

Nama Penulis : Mahasiswa: Rico Pratama Putra Effendi; Novi Apriliawati; Mutia Febriyani; Caesar Akbar Javier Al Farrel & Dosen: Amir Bandar Abdul Majid, M.Pd.

Reporter ; Aditya

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.